bahan btp3 HAMA DAN PENYAKIT PADA TANAMAN KEDELAI

VII. HAMA DAN PENYAKIT PADA TANAMAN KEDELAI

Pertumbuhan tanaman kedelaiyang optimal tidak akan mempunyai

produktivitas yang baik bila hama dan penyakit tidak dikendalikan dengan

baik. Berikut adalah hama-hama yang terdapat di lahan kedelai dan upaya

pengendaliannya :

1. Aphis spp. (Aphis glycine)

Kutu dewasa ukuran kecil 1-1,5 mm berwarna hitam, ada yang bersayap

dan tidak. Kutu ini dapat dapat menularkan virus SMV (Soybean Mosaik

Virus). Menyerang pada awal pertumbuhan dan masa pertumbuhan

bunga dan polong. Gejala : layu, pertumbuhannya terhambat.

Pengendalian : (1) menanam kedelai pada waktunya, mengolah tanah

dengan baik, bersih, memenuhi syarat, tidak ditumbuhi tanaman inang

seperti: terung-terungan, kapas-kapasan atau kacang-kacangan; (2)

membuang bagian tanaman yang terserang hama dan membakarnya; (3)

menggunakan musuh alami (predator maupun parasit); (4) penyemprotan

insektisida dilakukan pada permukaan daun bagian atas dan bawah.

2. Melano Agromyza phaseoli; ukuran kecil sekali (1,5 mm)

Lalat bertelur pada leher akar, larva masuk ke dalam batang memakan isi

batang, kemudian menjadi lalat dan bertelur. Lebih berbahaya bagi

kedelai yang ditanam di ladang. Pengendalian : (1) waktu tanam pada saat tanah masih lembab dan

subur (tidak pada bulan-bulan kering); (2) penyemprotan Agrothion 50

EC,Sumithoin 50 EC, Suprecide 25 EC.

3. Kumbang daun tembukur (Phaedonia inclusa)

Bertubuh kecil, hitam bergaris kuning. Bertelur pada permukaan daun.

Gejala : larva dan kumbang memakan daun, bunga, pucuk, polong

muda, bahkan seluruh tanaman. Pengendalian : penyemprotan,

Diazinon 60 EC, dan Agrothion 50 EC.

4. Cantalan (Epilachana soyae)

Kumbang berwarna merah dan larvanya yang berbulu duri, pemakan

daun dan merusak bunga. Pengendalian : sama dengan terhadap

kumbang daun tembukur.

5. Ulat polong (Etiela zinchenella)

Ulat yang berasal dari kupu-kupu ini bertelur di bawah daun buah,

setelah menetas, ulat masuk ke dalam buah sampai besar, memakan

buah muda. Gejala : pada buah terdapat lubang kecil. Waktu buah

masih hijau, polong bagian luar berubah warna, di dalam polong

terdapat ulat gemuk hijau dan kotorannya. Pengendalian : (1) kedelai

ditanam tepat pada waktunya (setelah panen padi), sebelum ulat

berkembang biak; (2) penyemprotan obat Dursban 20 EC sampai 15

hari sebelum panen. 6. Kepala polong (Riptortus linearis)

Gejala : polong bercak-bercak hitam dan menjadi hampa.

Pengendalian : penyemprotan Surecide 25 EC, Azodrin 15 WSC.

7. Lalat kacang (Ophiomyia phaseoli)

Menyerang tanaman muda yang baru tumbuh. Pengendalian : Saat

benih ditanam, tanah diberi Furadan 36, kemudian setelah benih

ditanam, tanah ditutup dengan jerami . Satu minggu setelah benih

menjadi kecambah dilakukan penyemprotan dengan insektisida

Azodrin 15 WSC, dengan dosis 2 cc/liter air, volume larutan 1000

liter/ha. Penyemprotan diulangi pada waktu kedelai berumur 1 bulan.

8. Kepik hijau (Nezara viridula)

Panjang 16 mm, telur di bawah permukaan daun, berkelompok.

Setelah 6 hari telur menetas menjadi nimfa (kepik muda), yang

berwarna hitam bintik putih. Pagi hari berada di atas daun, saat

matahari bersinar turun ke polong, memakan polong dan bertelur.

Umur kepik dari telur hingga dewasa antara 1 sampai 6 bulan. Gejala :

polong dan biji mengempis serta kering. Biji bagian dalam atau kulit

polong berbintik coklat. Pengendalian : Azodrin 15 WCS, Dursban 20

EC, Fomodol 50 EC. 9. Ulat grayak (Prodenia litura)

Serangan: mendadak dan dalam jumlah besar, bermula dari kupu-kupu

berwarna keabu-abuan, panjang 2 cm dan sayapnya 3-5 cm, bertelur

di permukaan daun. Tiap kelompok telur terdiri dari 350 butir. Gejala :

kerusakan pada daun, ulat hidup bergerombol, memakan daun, dan

berpencar mencari rumpun lain. Pengendalian: (1) dengan cara

sanitasi; (2) disemprotkan pada sore/malam hari (saat ulat menyerang

tanaman) beberapa insektisida yang efektif seperti Dursban 20 EC,

Azodrin 15 WSC dan Basudin 50 EC.

Berikut adalah macam-macam penyakit yang terdapat di lahan

kedelai dan upaya pengendaliannya :

1. Penyakit layu bakteri (Pseudomonas solanacearum)

Penyakit ini menyerang pangkal batang. Penyerangan pada saat

tanaman berumur 2-3 minggu. Penularan melalui tanah dan irigasi.

Gejala: layu mendadak bila kelembaban terlalu tinggi dan jarak tanam

rapat. Pengendalian: (1) biji yang ditanam sebaiknya dari varietas yang

tahan layu dan kebersihan sekitar tanaman dijaga, pergiliran tanaman

dilakukan dengan tanaman yang bukan merupakan tanaman inang

penyakit tersebut. Pemberantasan: belum ada.

2. Penyakit layu (Jamur tanah : Sclerotium rolfsii)

Penyakit ini menyerang tanaman umur 2-3 minggu, saat udara lembab,

dan tanaman berjarak tanam pendek. Gejala: daun sedikit demi sedikit

layu, menguning. Penularan melalui tanah dan irigasi. Pengendalian:

(1) varietas yang ditanam sebaiknya yang tahan terhadap penyakit

layu; (2) menyemprotkan Dithane M 45, dengan dosis 2 gram/liter air.

3. Penyakit lapu (Witches Broom: Virus)

Penyakit ini menyerang polong menjelang berisi. Penularan melalui

singgungan tanam karena jarak tanam terlalu dekat. Gejala: bunga,

buah dan daun mengecil. Pengendalian: menyemprotkan Tetracycline

atau Tokuthion 500 EC.

29

4. Penyakit anthracnose (Cendawan Colletotrichum glycine Mori)

Penyakit ini menyerang daun dan polong yang telah tua. Penularan

dengan perantaraan biji-biji yang telah kena penyakit, lebih parah jika

cuaca cukup lembab. Gejala: daun dan polong bintik-bintik kecil

berwarna hitam, daun yang paling rendah rontok, polong muda yang

terserang hama menjadi kosong dan isi polong tua menjadi kerdil.

Pengendalian: (1) perhatikan pola pergiliran tanam yang tepat; (2)

penyemprotan Antracol 70 WP, Dithane M 45, Copper Sandoz.

5. Penyaklit karat (Cendawan Phachyrizi phakospora)

Penyakit ini menyerang daun. Penularan dengan perantaraan angin

yang menerbangkan dan menyebarkan spora. Gejala: daun tampak

bercak dan bintik coklat. Pengendalian: (1) cara menanam kedelai

yang tahan terhadap penyakit; (2) menyemprotkan Dithane M 45.

6. Penyakit bercak daun bakteri (Xanthomonas phaseoli)

Penyakit ini menyerang daun. Gejala: permukaan daun bercak-bercak

menembus ke bawah. Pengendalian: menyemprotkan Dithane M 45.

7. Penyakit busuk batang (Cendawan Phytium sp.)

Penyakit ini menyerang batang. Penularan melalui tanah dan irigasi.

Gejala: batang menguning kecokllat-coklatan dan basah, kemudian

membusuk dan mati. Pengendalian: (1) memperbaiki drainase lahan;

(2) menyemprotkan Dithane M 45.

8. Virus mosaik (virus)

Penyakit ini menyerang Yang diserang daun dan tunas. Penularan

vektor penyebar virus ini adalah Aphis glycine (sejenis kutu daun).

Gejala: perkembangan dan pertumbuhan lambat, tanaman menjadi

kerdil. Pengendalian: (1) penanaman varietas yang tahan terhadap

virus; (2) menyemprotkan Tokuthion 500 EC.

VIII. PANEN DAN PASCAPANEN TANAMAN KEDELAI

Salah satu faktor penting yang dapat menentukan produktivitas

kedelai yaitu penanganan panen dan pascapanen. Adapun hal-hal yang

perlu diperhatikan antara lain saat dan umur panen, penjemuran,

pembijian, pembersihan biji, dan penyimpanan.

a. Panen

1. Ciri dan Umur Panen

Panen kedelai dilakukan apabila sebagian besar daun sudah

menguning, tetapi bukan karena serangan hama atau penyakit, lalu gugur,

buah mulai berubah warna dari hijau menjadi kuning kecoklatan dan retakretak,

atau polong sudah kelihatan tua, batang berwarna kuning agak

coklat dan gundul. Panen yang terlambat akan merugikan, karena banyak

buah yang sudah tua dan kering, sehingga kulit polong retak-retak atau

pecah dan biji lepas berhamburan. Disamping itu, buah akan gugur akibat

tangkai buah mengering dan lepas dari cabangnya.

Perlu diperhatikan umur kedelai yang akan dipanen yaitu sekitar 75-

110 hari, tergantung pada varietas dan ketinggian tempat. Perlu

diperhatikan, kedelai yang akan digunakan sebagai bahan konsumsi

dipetik pada usia 75-100 hari, sedangkan untuk dijadikan benih dipetik

pada umur 100-110 hari, agar kemasakan biji betul-betul sempurna dan

merata. dan jumlah buah yang

33

rontok akibat goncangan bisa ditekan. Pemungutan dengan cara

memotong bisa meningkatkan kesuburan tanah, karena akar

dengan bintil-bintilnya yang menyimpan banyak senyawa nitrat

tidak ikut tercabut, tapi tertinggal di dalam tanah. Pada tanah yang

keras, pemungutan dengan cara mencabut sukar dilakukan, maka

dengan memotong akan lebih cepat.

3. Periode Panen

Mengingat kemasakan buah tidak serempak, dan untuk menjaga agar

buah yang belum masak benar tidak ikut dipetik, pemetikan sebaiknya

dilakukan secara bertahap, beberapa kali.

4. Prakiraan Produksi

Produksi kedelai yang didasilkan para petani Indonesia rata-rata 600-

700 kg/ha.

b. Pascapanen

1. Pengumpulan dan Pengeringan

Setelah pemungutan selesai, seluruh hasil panen hendaknya segera

dijemur. Kedelai dikumpulkan kemudian dijemur di atas tikar, anyaman

bambu, atau di lantai semen selama 3 hari. Sesudah kering sempurna dan

merata, polong kedelai akan mudah pecah sehingga bijinya mudah

dikeluarkan. Agar kedelai kering sempurna, pada saat penjemuran

hendaknya dilakukan pembalikan berulang kali. Pembalikan juga

menguntungkan karena dengan pembalikan banyak polong pecah dan

banyak biji lepas dari polongnya. Sedangkan biji-biji masih terbungkus

polong dengan mudah bisa dikeluarkan dari polong, asalkan polong sudah

cukup kering.

Biji kedelai yang akan digunakan sebagai benih, dijemur secara

terpisah. Biji tersebut sebenarnya telah dipilih dari tanaman-tanaman yang

sehat dan dipanen tersendiri, kemudian dijemur sampai betul-betul kering

dengan kadar air 10-15 %. Penjemuran benih sebaiknya dilakukan pada

pagi hari, dari pukul 10.00 hingga 12.00 siang.

34

2. Penyortiran dan Penggolongan

Terdapat beberapa cara untuk memisahkan biji dari kulit polongan.

Diantaranya dengan cara memukul-mukul tumpukan brangkasan kedelai

secara langsung dengan kayu atau brangkasan kedelai sebelum dipukulpukul

dimasukkan ke dalam karung, atau dirontokkan dengan alat

pemotong padi.

Setelah biji terpisah, brangkasan disingkirkan. Biji yang terpisah

kemudian ditampi agar terpisah dari kotoran-kotoran lainnya. Biji yang luka

dan keriput dipisahkan. Biji yang bersih ini selanjutnya dijemur kembali

sampai kadar airnya 9-11 %. Biji yang sudah kering lalu dimasukkan ke

dalam karung dan dipasarkan atau disimpan. Sebagai perkiraan dari

batang dan daun basah hasil panen akan diperoleh biji kedelai sekitar

18,2 %.

3. Penyimpanan dan pengemasan

Sebagai tanaman pangan, kedelai dapat disimpan dalam jangka waktu

cukup lama. Caranya kedelai disimpan di tempat kering dalam karung.

Karung-karung kedelai ini ditumpuk pada tempat yang diberi alas kayu

agar tidak langsung menyentuh tanah atau lantai. Apabila kedelai

disimpan dalam waktu lama, maka setiap 2-3 bulan sekali harus dijemur

lagi sampai kadar airnya sekitar 9-11 %.

IX. ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA TANAMAN KEDELAI

Perkembangan tanaman kedelai selama 10 tahun terakhir

menunjukkan penurunan yang cukup besar, lebih dari 50%, baik dalam

luasan areal maupun produksinya. Pada tahun 1992, luas areal tanaman

kedelai mencapai 1,6 juta ha, sedangkan pada tahun 2003, luas areal

hanya 600.000 ha. Total produksi selama periode yang sama menurun

dari 1,9 juta ton menjadi 700 ribu ton.

Ada dua masalah yang saling terkait dan berpengaruh terhadap

perkembangan kedelai, yaitu faktor teknis dan sosial-ekonomi. Faktor

teknis yang berpengaruh terhadap perkembangan kedelai yaitu kualitas

35

benih yang ditanam, cara tanam, cara pemeliharaan tanaman, serta

panen dan penanganan pascapanen. Adapun faktor sosial-ekonomi yang

mempengaruhi usaha tani kedelai di tingkat petani, diantaranya yaitu luas

pemilikan lahan, status tanaman kedelai, modal, dan resiko.

Pertanaman kedelai di Indonesia masih terpusat di Pulau Jawa

(60%); Sumatra (15%); Nusa Tenggara Barat (5%); serta selebihnya

tersebar di Pulau Sulawesi, Kalimantan, Bali, NTT, Maluku, dan Papua.

Kondisi tersebut mencerminkan adanya perbedaan sumber daya yang

akhirnya menyebabkan adanya keragaman dalam usaha tani kedelai yang

dilakukan oleh petani. Hal ini pula yang menyebabkan biaya dan

keuntungan yang diperoleh petani bervariasi. Pengeluaran biaya dalam

usaha tani kedelai yang berbeda tersebut antara lain harga benih, pupuk,

pestisida, dan lain-lain.

a. Biaya dan keuntungan

Untuk memberi gambaran umum, analisis usaha tani kedelai

mengambil data dari salah satu sentra pertanaman kedelai di Jawa Timur,

yaitu Kabupaten Mojokerto pada tahun 2004. Adapun asumsi-asumsi

yang dipergunakan sebagai berikut :

· Lahan budidaya kedelai seluas 1 ha, berupa lahan sewa.

· Upah 1 hari tenaga kerja pria (HKP) senilai Rp 15.000/hari.

· Upah 1 hari tenaga kerja wanita (HKW) senilai Rp 10.000/hari.

· Harga jual biji kedelai saat panen di tingkat petani Rp 3.000/kg.

· Volume produksi sebanyak 2.000 kg.

1. Biaya

Secara umum, biaya yang digunakan pada kegiatan usaha tani

dapat dikelompokkan menjadi biaya tetap dan biaya tidak tetap.

Biaya tetap adalah jumlah biaya yang harus dikeluarkan dalam

jumlah yang tetap dan tidak terpengaruh oleh jumlah produk yang

akan dihasilkan. Sementara yang dimaksud dengan biaya tidak

tetap adalah jumlah biaya yang dikeluarkan dan jumlah tersebut

akan berpengaruh terhadap jumlah produk yang dihasilkan. Ini

36

berarti, semakin besar produk yang dihasilkan maka akan semakin

besar pula jumlah biaya yang harus dikeluarkan.

a. Biaya tetap

Biaya tetap yang diperlukan pada kegiatan usaha tani kedelai

seluas 1 ha selama satu musim tanam (3 bulan) sebagai berikut :

· Sewa lahan 1 ha ………………………………………………Rp 500.000

b. Biaya tidak tetap (variabel)

Biaya tidak tetap pada usaha tani kedelai sebagai berikut :

· Biaya benih kedelai sebanyak 60 kg

@ Rp 5.000/kg …………………………………………………Rp 300.000

· Biaya pupuk

1) Pupuk urea sebanyak 50 kg

@ Rp 1.450 …………………………………………………Rp 72.500

2) Pupuk SP36 sebanyak 50 kg

@ Rp 2.100 ………………………………………………..Rp 105.000

3) Pupuk KCl sebanyak 50 kg

@ Rp 2.250 ………………………………………………..Rp 112.500

Total biaya pupuk ………………………………………..Rp 290.000

· Biaya pestisida

1) Padat 1 kg @ Rp 15.000 ………………………………..Rp 15.000

2) Cair 1 liter @ Rp 100.000 ……………………………..Rp 100.000

Total biaya pestisida …………………………………….Rp 115.000

· Biaya tenaga kerja (penyiapan lahan, tanam, pemeliharaan,

panen, dan proses)

1) 70 HKW @ Rp 10.000 ………………………………….Rp 700.000

2) 40 HKP @ Rp 15.000 …………………………………..Rp 600.000

Total biaya tenaga kerja …………………………….Rp 1.300.000

Total biaya variabel …………………………………..Rp 2.005.000

Total biaya produksi = Biaya tetap + Total biaya variabel

= Rp 500.000 + Rp 2.005.000

= Rp 2.505.000

37

2. Pendapatan dan keuntungan

Produksi biji kedelai yang diperoleh dari luas areal tanam 1 ha

selama satu musim tanam (3 bulan) mencapai 2 ton/ha. Bila harga

jual pada saat panen dapat mencapai Rp 3.000/kg maka

pendapatan yang diperoleh petani sebagai berikut :

Pendapatan = Volume produksi x Harga jual

= 2.000 kg x Rp 3.000/kg

= Rp 6.000.000

Keuntungan yang diperoleh dari usaha tani kedelai seluas 1 ha

sebagai berikut :

Keuntungan = Pendapatan – Total biaya produksi

= Rp 6.000.000 – Rp 2.505.000

= Rp 3.495.000

b. Analisis kelayakan usaha

Penilaian suatu kelayakan usaha tani dilakukan dengan beberapa

cara, antara lain return of investment (ROI) dan perbandingan biaya

dengan pendapatan (benefit cost ratio, B/C rasio).

1. Return of investment (ROI)

Return of investment merupakan ukuran perbandingan antara

keuntungan dengan total biaya produksi. Cara ini digunakan untuk

mengetahui tingkat efisiensi penggunaan modal atau mebgukur

keuntungan usaha tani dalam kaitannya dengan jumlah modal yang

diinvestasikan. Perhitungan ROI dilakukan dengan rumus sebagai

berikut :

ROI = Pendapatan

Total biaya produksi

= Rp 6.000.000 = 2,39

Rp 2.505.000

Nilai ROI untuk usaha tani kedelai sebesar 2,39. Berarti, setiap

modal Rp 1 yang dikeluarkan untuk usaha tani kedelai akan

38

menghasilkan keuntungan sebesar Rp 2,39. Dengan demikian, usaha

tani kedelai tersebut dinilai efisien dalam penggunaan modal.

2. Benefit cost ratio (B/C rasio)

Benefit cost ratio (B/C rasio) merupakan suatu ukuran

perbandingan antara keuntungan bersih dengan total biaya produksi

sehingga dapat diketahui kelayakan usaha taninya. Bila nilai B/C rasio

lebih besar dari 1, berarti usaha tani tersebut layak untuk dilaksanakan.

Sebaliknya, bila nilai B/C rasio lebih kecil dari 1, usaha tani tersebut

tidak layak untuk dijalankan.

Perhitungan B/C rasio usaha tani kedelai dilakukan dengan rumus

sebagai berikut :

B/C rasio = Pendapatan

Total biaya produksi

= Rp 3.495.000 = 1,39

Rp 2.505.000

Hasil perhitungan nilai B/C rasio pada usaha tani kedelai senilai

1,39. Artinya, setiap satuan biaya yang dikeluarkan akan diperoleh

hasil penjualan sebesar 1,39 kali lipat. Hasil ini menunjukkan bahwa

usaha tani kedelai layak untuk dikembangkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: